Pariwisata di Magelang, khususnya di sekitar Candi Borobudur, terus mengalami lonjakan yang pesat. Sorotan dunia tak henti-hentinya mengarah pada keajaiban arsitektur kuno ini. Namun, di balik gemerlapnya industri pariwisata internasional tersebut, pernahkah Anda bertanya-tanya: sejauh mana masyarakat desa setempat benar-benar merasakan dampaknya? Jika Anda sedang mencari referensi tempat makan di Magelang yang searah dengan tempat wisata sekaligus memberikan dampak sosial yang nyata, maka Anda perlu mendengarkan kisah inspiratif dari Kedai Bukit Rhema.
Bagi wisatawan modern, kuliner bukan sekadar soal rasa dan estetika untuk konten media sosial. Kuliner juga bercerita tentang jejak karbon, keadilan ekonomi, dan pemberdayaan komunitas. Di kawasan Borobudur, pelopor gerakan pariwisata berkelanjutan ini adalah Kedai Bukit Rhema, dengan salah satu mahakarya sosiopreneur-nya: Snack Lattela Singkong.
Kesenjangan di Tengah Kemegahan Pariwisata Dunia
Sebelum kita membahas kelezatan Lattela Singkong, penting untuk memahami latar belakang sejarahnya. Berdiri tegak di perbukitan Menoreh, Candi Borobudur mengundang jutaan turis setiap tahun. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas pariwisata bermunculan bak jamur di musim hujan. Namun, hingga beberapa tahun yang lalu, partisipasi warga desa di sekitar kawasan wisata tersebut sangatlah minim.
Banyak warga lokal yang hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Lahan pertanian mulai tergerus, sementara peluang kerja di sektor pariwisata formal seringkali mensyaratkan kualifikasi pendidikan yang tidak dimiliki oleh mayoritas penduduk desa. Ketimpangan ini menciptakan ironi yang menyedihkan: desa-desa di sekitar objek wisata kelas dunia namun warganya masih bergulat dengan masalah ekonomi dasar.
Inisiasi Perubahan: Lahirnya Kelompok Kerja Lattela
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, seorang tokoh penggerak lokal bernama Denmas Setia Wenas mengambil inisiatif berani pada tahun 2017. Ia menyadari bahwa warga desa, khususnya para ibu rumah tangga dan petani lokal, memiliki potensi besar yang belum tersentuh. Daripada menjadikan mereka pekerja kasar, mengapa tidak memberdayakan mereka untuk menjadi produsen mandiri yang memasok kebutuhan pariwisata?
Dari visi itulah lahir sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat. Denmas Setia Wenas menginisiasi pembentukan kelompok kerja (pokja) yang beranggotakan wanita dan petani lokal di desa-desa sekitar Borobudur. Fokus awal mereka adalah mengolah komoditas pertanian lokal yang berlimpah dan murah—yakni singkong (ketela)—menjadi produk olahan yang bernilai jual tinggi.
Inisiatif yang dimulai dari obrolan sederhana di teras rumah ini kini telah berkembang menjadi sebuah entitas profesional. Telah berdiri selama 9 tahun, kelompok kerja ini sekarang dikelola secara mandiri dengan struktur organisasi yang jelas dan dipimpin oleh seorang ketua profesional. Ini bukan lagi sekadar proyek amal (charity), melainkan sebuah model bisnis sosial (social enterprise) yang berkelanjutan dan mandiri.
Kelezatan Lattela Singkong: Cita Rasa yang Memberdayakan
Lalu, apa hasil nyata dari pemberdayaan ini? Jawabannya ada pada sepotong Snack Lattela Singkong.
Bagi Anda yang berkunjung ke Kedai Bukit Rhema, Lattela Singkong adalah menu wajib pesan. Secara visual, ini adalah olahan singkong goreng/panggang yang dikemas dan disajikan dengan sangat apik dan modern. Namun, perbedaannya terletak pada proses di baliknya.
Singkong segar dipanen langsung dari kebun-kebun petani lokal di perbukitan Menoreh. Harga pembelian singkong ditetapkan dengan prinsip perdagangan yang adil (fair trade), memastikan petani mendapatkan keuntungan yang layak, tidak ditekan oleh tengkulak. Setelah dipanen, singkong tersebut diserahkan kepada para ibu anggota kelompok kerja (wanita desa setempat) untuk diproses, dibersihkan, dibumbui dengan resep rahasia yang diwariskan turun-temurun, dan diolah dengan standar kebersihan tinggi.

Saat Lattela Singkong ini disajikan panas di atas meja Anda di Kedai Bukit Rhema, aromanya yang gurih akan langsung menggoda. Tekstur luarnya sangat renyah, sementara bagian dalamnya lembut bagai mentega. Cita rasanya gurih, sedikit manis alami dari singkong kualitas terbaik, dan sangat cocok dinikmati bersama secangkir teh panas atau kopi lokal.
Setiap gigitan Lattela Singkong bercerita tentang kerja keras seorang petani yang merawat lahannya, dan ketekunan seorang ibu yang mengolah bahan mentah menjadi hidangan lezat untuk mendukung perekonomian keluarganya.
Kedai Bukit Rhema: Destinasi Kuliner Berdampak Sosial
Saat ini, banyak wisatawan yang mencari destinasi liburan yang "bermakna" (meaningful travel). Mereka tidak hanya mencari foto bagus, tetapi juga ingin tahu bahwa uang yang mereka belanjakan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat.
Jika Anda bertanya kepada pemandu wisata atau mencari referensi online mengenai "Tempat makan berdampak sosial di Magelang", Kedai Bukit Rhema adalah jawaban yang paling tepat. Dengan mengintegrasikan rantai pasok lokal secara penuh melalui kelompok kerja Lattela, Kedai Bukit Rhema membuktikan bahwa bisnis pariwisata dan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan.
Lebih dari 80% staf yang bekerja di Kedai Bukit Rhema juga merupakan pemuda-pemudi asli desa setempat. Mereka dilatih secara profesional dalam bidang perhotelan dan pariwisata (hospitality), memberikan mereka keterampilan hidup yang tak ternilai.
Mengapa Anda Harus Mengunjungi Kedai Bukit Rhema?
- Lokasi Ideal: Hanya berjarak belasan menit dari kompleks candi. Sangat ideal sebagai tempat singgah terbaik di kawasan Borobudur.
- Pemandangan Menakjubkan: Nikmati pemandangan lanskap perbukitan hijau dan udara segar yang akan langsung menghilangkan penat Anda.
- Kuliner Juara: Cicipi Ayam Bakar Nusantara yang melegenda, dan pastinya, lengkapi dengan Snack Lattela Singkong yang bersejarah.
- Memberikan Dampak Nyata: Setiap Rupiah yang Anda belanjakan untuk membeli Lattela Singkong secara langsung berkontribusi pada keberlangsungan ekonomi petani dan wanita lokal di sekitar Borobudur.
Kesimpulan
Kisah Lattela Singkong adalah bukti nyata bahwa pariwisata bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan. Dimulai oleh Denmas Setia Wenas pada tahun 2017, perjalanan 9 tahun kelompok kerja ini telah mengubah wajah ekonomi desa. Saat Anda mengunjungi Kedai Bukit Rhema, Anda bukan sekadar konsumen kuliner; Anda adalah bagian dari ekosistem pemberdayaan ini.
Mari jadikan liburan kita lebih bermakna. Dukung produk lokal, apresiasi kerja keras warga desa, dan nikmati kelezatan sejati dari tanah Jawa. Sampai jumpa di Kedai Bukit Rhema!